Post Holiday Syndrome: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Pernahkah Anda merasa sedih atau cemas, terutama saat menjalani aktivitas sehari-hari setelah liburan? Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah post-holiday syndrome. Post-holiday syndrome adalah kondisi ketika seseorang merasa sedih saat liburan berakhir. Kondisi ini umumnya berlangsung dalam hitungan hari dan ditandai dengan penurunan suasana hati dan tidak bersemangat ketika menjalani aktivitas sehari-hari setelah liburan. Lalu, apa penyebab dan gejala post-holiday syndrome, serta bisakah disembuhkan? Berikut informasi selengkapnya.
Penyebab Post-Holiday Syndrome
Penelitian menemukan bahwa liburan dapat mengembalikan energi dan meningkatkan semangat. Namun, orang yang mengalami post-holiday syndrome justru mengalami stres, depresi, dan cemas saat liburan berakhir. Dikutip dari Healthline, salah satu penyebab post-holiday syndrome adalah kebahagiaan yang dirasakan saat liburan umumnya tidak bertahan lama. Saat liburan berakhir, orang yang mengalami post-holiday syndrome akan kembali ke tingkat kebahagiaan mereka yang biasanya dalam beberapa hari.
Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti perbedaan antara keadaan di rumah dan tempat mereka menginap saat berlibur, misalnya rumah yang tidak sebersih atau sebagus tempat menginap saat berlibur. Sedangkan untuk anak-anak, mereka bisa merasakan perbedaan antara lingkungan keluarga saat liburan dengan lingkungan keluarga saat liburan berakhir. Misalnya, momen liburan yang menyenangkan dengan keluarga. Namun, saat liburan berakhir, keluarga kembali bertengkar atau anak-anak harus kembali masuk sekolah.
Post-holiday syndrome juga bisa disebabkan oleh hal-hal yang tidak bisa dipenuhi di tempat tinggal mereka dan bisa terpenuhi di tempat liburan atau saat liburan. Misalnya, kebebasan yang dirasakan saat liburan, tuntutan pencapaian, keharmonisan, dan kondisi tempat tinggal. Selain itu, saat merasa kosong, seseorang mungkin akan mengingat hal-hal buruk yang pernah dialami di masa lalu. Kondisi ini bisa memicu munculnya depresi, rasa sedih, dan bad mood saat liburan berakhir atau post holiday syndrome.
Faktor Risiko Post-Holiday Syndrome
Selain beberapa faktor penyebab di atas, ada beberapa kondisi yang bisa meningkatkan risiko post-holiday syndrome, yaitu:
- Perubahan rutinitas. Saat liburan, pola tidur, kebiasaan makan, serta aktivitas sehari-hari bisa berubah. Ketika Anda kembali ke rutinitas sebelumnya, perasaan stres, depresi, dan kecemasan bisa muncul.
- Tekanan pekerjaan. Kembali menjalani rutinitas pekerjaan dan menghadapi tugas-tugas yang tertunda setelah liburan bisa memicu munculnya post-holiday syndrome.
- Perasaan kehilangan. Saat liburan, Anda akan berinteraksi dengan orang-orang tercinta, seperti keluarga atau teman-teman. Ketika liburan berakhir, interaksi tersebut akan berhenti, sehingga menimbulkan perasaan kesepian atau isolasi.
- Stres finansial. Beban finansial yang muncul setelah liburan, seperti membayar tagihan kartu kredit atau menyesuaikan budget karena tingginya pengeluaran, bisa memicu perasaan cemas, stres, dan suasana hati yang buruk.
Gejala Post-Holiday Syndrome
Gejala post-holiday syndrome bisa berbeda-beda pada setiap orang. Namun, ada beberapa gejala umum yang dialami oleh penderita post-holiday syndrome, yaitu:
- Merasa sedih
- Kehilangan motivasi dan fokus
- Merasa stres dan cemas saat kembali menjalani aktivitas
- Mengalami insomnia
- Suasana hati menjadi buruk
- Merasa kosong
- Lelah
- Sering melamun
- Mudah marah dan frustrasi
- Rasa percaya diri menurun
Cara Mengatasi Post-Holiday Syndrome
Berikut beberapa cara mengatasi post-holiday syndrome yang bisa Anda terapkan:
- Melakukan olahraga yang Anda sukai. Olahraga bermanfaat untuk melepaskan hormon endorfin yang bisa membuat Anda bahagia
- Mengobrol dengan keluarga atau sahabat dan ungkapkan keluh kesah Anda
- Memulai hari dengan jadwal yang ringan dan realistis
- Membuat to-do list harian agar lebih fokus dan terarah
- Beradaptasi secara perlahan. Hindari memaksakan diri untuk kembali bekerja secara maksimal setelah liburan. Selama minggu pertama setelah liburan, jadwalkan aktivitas yang santai dan menyenangkan, seperti hang out bersama teman atau melakukan hobi
- Melakukan perawatan diri. Selain tidur yang cukup dan berolahraga, Anda bisa memanjakan diri dengan berendam atau pijat
- Mengonsumsi makanan yang bisa mengurangi stres, seperti cokelat, biji-bijian utuh, atau teh hijau
- Membatasi konsumsi minuman berkafein
- Menonton film yang lucu dan menghibur untuk mengurangi stres
- Tidur yang cukup agar ritme tubuh kembali seimbang
- Meluangkan waktu untuk melakukan hobi yang Anda sukai
- Melakukan aktivitas di alam terbuka sambil menghirup udara segar
- Menyapa tetangga di lingkungan tempat tinggal Anda
Post-holiday syndrome bisa dialami oleh siapa saja. Namun, jika kondisinya tidak membaik atau bahkan semakin parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan ke psikolog atau psikiater untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dengan begitu, psikolog atau psikiater bisa memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.
Cara Mencegah Post-Holiday Syndrome
Post-holiday syndrome bisa dicegah dengan melakukan langkah-langkah berikut:
- Membuat rencana liburan yang menarik
Merencanakan berbagai aktivitas liburan yang menarik bisa membuat liburan semakin berkesan. Namun, pastikan Anda memiliki waktu istirahat di setiap aktivitas liburan agar tidak terlalu lelah saat kembali bekerja.
2. Beristirahat setelah liburan
Pulang ke rumah pada hari terakhir liburan bisa memicu post-holiday syndrome. Hal ini dikarenakan Anda tidak memiliki cukup waktu untuk beristirahat setelah berlibur. Oleh karena itu, Anda dianjurkan untuk pulang ke rumah sekitar 1 atau 2 hari sebelum kembali bekerja.
Selain itu, pastikan rumah sudah bersih dan rapi sebelum ditinggal berlibur agar tidak menambah beban pekerjaan saat Anda kembali beraktivitas.
3. Merencanakan liburan selanjutnya
Cara mencegah post-holiday syndrome berikutnya adalah merencanakan perjalanan untuk liburan selanjutnya. Hal ini bisa meningkatkan semangat kerja setelah liburan, karena Anda memiliki rencana liburan yang dinanti-nantikan.
4. Mendokumentasikan momen liburan
Memiliki dokumentasi liburan dalam bentuk foto, video, atau jurnal juga bisa menjadi cara mencegah post-holiday syndrome. Dokumentasi liburan bisa membantu Anda mengingat hal-hal menyenangkan selama liburan dan mencegah munculnya rasa sedih.
Yuk, terapkan pola hidup sehat sekarang dengan beragam produk kesehatan, mulai dari obat hingga suplemen, hanya di Pyfa Health!





