Relapse: Arti, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
Relapse: Arti, Penyebab, dan Cara Mencegahnya – Belakangan ini, istilah relapse semakin sering digunakan di media sosial, terutama ketika membahas kesehatan mental, kecanduan, atau proses pemulihan dari suatu penyakit. Banyak orang mengartikan relapse sebagai “kambuh”, tetapi maknanya sebenarnya lebih luas dari sekadar gejala yang muncul kembali. Dalam dunia kesehatan, relapse menggambarkan kondisi ketika seseorang kembali mengalami gejala atau perilaku yang sebelumnya sudah membaik setelah menjalani pengobatan atau proses pemulihan.
Relapse dapat terjadi pada berbagai kondisi, mulai dari gangguan penggunaan zat (substance use disorder), depresi, gangguan kecemasan, hingga penyakit kronis tertentu. Meski terdengar mengkhawatirkan, relapse bukan berarti seluruh proses pemulihan yang telah dijalani menjadi sia-sia. Dengan penanganan yang tepat, banyak orang tetap dapat kembali melanjutkan proses pemulihan dan memperoleh hasil yang baik. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Apa Itu Relapse?
Relapse adalah kondisi ketika gejala suatu penyakit atau perilaku yang sebelumnya sudah membaik kembali muncul setelah seseorang memasuki masa pemulihan atau remisi. Dalam konteks gangguan penggunaan zat (alkohol atau obat-obatan terlarang), relapse umumnya diartikan sebagai kembalinya penggunaan zat setelah seseorang berhasil berhenti untuk waktu tertentu, sedangkan pada gangguan kesehatan mental atau penyakit kronis, relapse berarti munculnya kembali gejala setelah periode perbaikan.
Relapse tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Pada banyak kasus, kondisi ini berkembang secara bertahap dan diawali dengan perubahan emosi, pola pikir, atau kebiasaan sebelum akhirnya gejala kembali muncul.
Baca Juga: Avoidant: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya.
Apa Penyebab Relapse?
Penyebab relapse berbeda-beda tergantung kondisi yang dialami seseorang. Namun, ada beberapa faktor yang paling sering berperan.
Stres berkepanjangan merupakan salah satu pemicu utama. Ketika menghadapi tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau perubahan besar dalam hidup, seseorang mungkin kesulitan mempertahankan strategi yang sebelumnya membantu proses pemulihan.
Selain itu, kurangnya dukungan dari keluarga atau lingkungan sekitar juga dapat meningkatkan risiko relapse. Pada orang yang sedang menjalani pemulihan dari kecanduan, kembali berada di lingkungan atau situasi yang mengingatkan pada kebiasaan lama juga menjadi salah satu faktor pemicu.
Faktor lain seperti kurang tidur, kelelahan fisik, berhenti mengonsumsi obat tanpa anjuran dokter, atau tidak lagi mengikuti terapi juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya relapse.
Baca Juga: Backburner: Pengertian, Tanda-Tanda, dan Cara Menghadapinya dalam Hubungan.
Apa Saja Tanda-Tanda Relapse?
Relapse umumnya tidak terjadi dalam satu malam. Sebelum gejala benar-benar muncul kembali, biasanya terdapat beberapa tanda yang dapat dikenali.
Seseorang mungkin mulai merasa lebih mudah marah, kehilangan motivasi, atau menarik diri dari keluarga dan teman. Sebagian orang juga mengalami gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, atau kembali memikirkan kebiasaan lama yang sebelumnya sudah berhasil dihentikan.
Pada gangguan penggunaan zat, keinginan (craving) untuk menggunakan zat kembali sering kali menjadi salah satu tanda awal yang perlu diwaspadai. Sementara pada gangguan kesehatan mental seperti depresi atau gangguan kecemasan, munculnya kembali perasaan sedih berkepanjangan, rasa putus asa, atau kecemasan yang semakin berat dapat menjadi sinyal bahwa relapse mulai terjadi.
Baca Juga: Hiatus: Arti, Manfaat, dan Kapan Sebaiknya Dilakukan?
Apakah Relapse Sama dengan Lapse?
Istilah relapse sering disamakan dengan lapse, padahal keduanya memiliki arti yang berbeda.
Lapse adalah kejadian ketika seseorang kembali melakukan perilaku lama hanya dalam waktu singkat atau satu kali, kemudian segera kembali ke proses pemulihan. Sebaliknya, relapse menggambarkan kondisi ketika seseorang benar-benar kembali pada pola perilaku atau gejala sebelumnya sehingga mengganggu proses pemulihan yang telah dicapai.
Memahami perbedaan ini penting karena tidak setiap kesalahan kecil berarti seluruh proses pemulihan telah gagal. Mengenali kondisi sejak dini justru dapat membantu seseorang segera kembali ke jalur pemulihan.
Apakah Relapse Berarti Gagal?
Banyak orang merasa putus asa ketika mengalami relapse. Padahal, para ahli menegaskan bahwa relapse bukan berarti kegagalan.
Relapse merupakan hal yang cukup umum terjadi selama proses pemulihan, terutama pada gangguan penggunaan alkohol maupun zat lainnya. Kondisi ini dapat dipandang sebagai sinyal bahwa rencana terapi perlu dievaluasi atau disesuaikan agar lebih efektif.
Hal serupa juga berlaku pada beberapa gangguan kesehatan mental maupun penyakit kronis. Sama seperti tekanan darah tinggi atau asma yang dapat kambuh sewaktu-waktu, relapse dapat menjadi bagian dari perjalanan pemulihan dan bukan berarti semua kemajuan yang telah dicapai hilang begitu saja.
Bagaimana Cara Mencegah Relapse?
Mencegah relapse dimulai dengan mengenali faktor-faktor yang dapat memicunya. Jika stres menjadi penyebab utama, penting untuk memiliki cara yang sehat dalam mengelola tekanan, misalnya melalui olahraga, meditasi, atau melakukan aktivitas yang disukai.
Mengikuti jadwal terapi dan mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter juga berperan penting dalam menjaga kondisi tetap stabil. Selain itu, mempertahankan pola tidur yang baik, makan bergizi, dan tetap aktif secara fisik dapat membantu menjaga kesehatan tubuh sekaligus kesehatan mental.
Dukungan dari keluarga, teman, maupun kelompok pendukung (support group) juga terbukti membantu seseorang tetap termotivasi selama menjalani proses pemulihan. Apabila mulai muncul tanda-tanda relapse, segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Segera cari bantuan profesional apabila gejala mulai muncul kembali dan mengganggu aktivitas sehari-hari, atau apabila Anda merasa kesulitan mengendalikan kondisi sendiri.
Pada gangguan kesehatan mental, bantuan psikolog atau psikiater dapat membantu mengevaluasi penyebab relapse dan menyesuaikan terapi yang dibutuhkan. Sementara pada gangguan penggunaan zat, penanganan sejak dini dapat membantu mencegah relapse berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
Semakin cepat seseorang mendapatkan bantuan, semakin besar pula peluang untuk kembali menjalani proses pemulihan dengan baik.
Kesimpulan
Relapse adalah kondisi ketika gejala penyakit atau perilaku yang sebelumnya telah membaik kembali muncul setelah masa pemulihan. Meski sering dikaitkan dengan kecanduan, relapse juga dapat terjadi pada berbagai gangguan kesehatan mental maupun penyakit kronis lainnya. Yang terpenting untuk diingat adalah relapse bukan berarti kegagalan. Dengan mengenali tanda-tanda sejak dini, menghindari faktor pemicu, serta mendapatkan dukungan dan penanganan yang tepat, seseorang tetap dapat melanjutkan proses pemulihan dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Frequently Asked Questions (FAQ)
1. Kenapa orang bisa relapse?
Relapse dapat terjadi karena masalah kesehatan mental atau bahkan stres dalam hidup yang tidak ditangani dengan baik. Hal ini bisa terjadi ketika penderita gangguan adiksi merasa sudah “sembuh”, sehingga beranggapan bahwa kondisinya sudah tidak perlu mendapatkan penanganan.
2. Berapa lama fase relapse?
Durasi fase relapse (kekambuhan) bervariasi, berkisar antara beberapa minggu hingga beberapa bulan, tergantung pada jenis kondisi (kesehatan mental atau adiksi), pemicu, dan penanganan yang dilakukan.
Relapse bukanlah kegagalan, melainkan proses bertahap yang umumnya terbagi menjadi 3 tahapan.
- Emosional: Ditandai dengan perubahan suasana hati dan isolasi sosial.
- Mental: Mulai muncul pikiran negatif atau keinginan untuk kembali ke kebiasaan lama.
- Fisik: Tahap saat individu benar-benar kembali menggunakan zat atau gejala penyakit muncul kembali.
3. Apa yang harus dilakukan saat relapse?
Untuk melewati fase relapse (kambuhnya gejala atau kemunduran kebiasaan), terimalah perasaan tersebut tanpa menyalahkan diri sendiri. Segera identifikasi pemicunya, lakukan perawatan diri (self-care), putus kontak dengan hal yang merugikan, dan mintalah dukungan orang terdekat atau profesional.
Referensi:
- https://my.clevelandclinic.org/health/articles/relapse-return-to-substance-use.
- https://www.ethosrecovery.com/post/what-is-a-mental-health-relapse.
- https://americanaddictioncenters.org/adult-addiction-treatment-programs/signs-of-relapse.
- https://www.turningpoint.org.au/treatment/about-addiction/treating-addiction/lapse-and-relapse.




