Efektivitas Vaksin Sinovac Diklaim 90%, Benarkah?

efektivitas vaksin sinovac

Efektivitas Vaksin Sinovac Diklaim 90%, Benarkah?

Vaksin Sinovac mulai masuk ke Indonesia pada 6 Desember 2020 dan menjadi salah satu vaksin yang paling banyak digunakan di Indonesia. Efektivitas vaksin Sinovac mencegah penyebaran virus Covid-19 diklaim lebih dari 90%.

Pemberian vaksin Sinovac di Indonesia telah mendapatkan persetujuan penggunaan darurat atau emergency use listing (EUL) oleh WHO sejak 1 Mei 2021. BPOM juga telah secara resmi menyatakan bahwa vaksin ini aman untuk digunakan. Ingin tahu lebih dalam mengenai efektivitas Sinovac? Berikut penjelasannya.

Efektivitas Vaksin Sinovac Lebih dari 90%

Mengutip Kementerian Kesehatan, vaksin Sinovac memiliki efektivitas melawan penularan Covid-19 hingga 90 persen. Untuk menilai efektivitas terhadap infeksi Covid-19, baik perawatan maupun kematian, Kemenkes telah melakukan kajian terhadap efektivitas vaksin Sinovac. Kajian tersebut dilakukan terhadap 128.000 tenaga kesehatan di DKI Jakarta yang berusia di atas 18 tahun, di mana 60 persen di antaranya perempuan dengan rentang 30 tahun. Kajian tersebut dilakukan pada 13 Januari hingga 18 Maret 2021 lalu.

Hasilnya, vaksin Sinovac berhasil mencegah risiko dan gejala Covid-19 sebesar 94 persen, mencegah risiko perawatan sekitar 96 persen, dan mencegah kematian hingga 98%. “Vaksinasi mampu menurunkan risiko perawatan dan kematian hingga 98%, lebih tinggi dibandingkan pada individu yang baru mendapatkan vaksin dosis pertama, di mana hanya efektif menurunkan sekitar 13% gejala Covid-19.” kata Ketua Tim Peneliti Efektivitas Vaksin Kemenkes Pandji Dhewantara.

Perjalanan Izin Vaksin Sinovac di Indonesia

Sinovac merupakan vaksin yang masuk pertama kali ke Indonesia, yaitu pada 6 Desember 2020. BPOM secara resmi telah menyatakan bahwa vaksin Sinovac aman untuk digunakan. Pernyataan BPOM tersebut didasarkan pada hasil uji klinis sementara tahap III untuk vaksin Sinovac di Indonesia dan tinjauan uji klinis dari negara lain. Menurut Kepala BPOM, Penny Kusumastuti, hasil analisis uji klinis vaksin Sinovac di Bandung menunjukkan efikasi sebesar 65,3 persen. Selain itu, ada pertimbangan lain, yaitu dari Turki dengan efikasi vaksin sebesar 91,25 persen dan Brasil sebesar 78 persen.

Hasil efikasi dan keamanan vaksin Sinovac telah memenuhi syarat ambang batas efikasi yang ditetapkan WHO, yaitu sebesar 50 persen. Hal ini juga menunjukkan penggunaan vaksin Sinovac jauh lebih aman dibandingkan efek samping yang ditimbulkan. Penny melanjutkan, “Vaksin Sinovac menunjukkan kemampuan dalam membentuk antibodi dalam tubuh dan kemampuan antibodi dalam membunuh atau menetralkan virus. Selain itu, hasil efikasi juga membuktikan bahwa vaksin Sinovac dapat menurunkan risiko penyakit Covid-19 hingga 65,3 persen.” Berdasarkan BPOM, nilai efikasi vaksin Sinovac untuk beragam varian Corona, yaitu varian Original terbukti efektif, varian Alpha perlu studi lebih lanjut, varian Beta perlu studi lebih lanjut, dan varian Delta perlu studi lebih lanjut.

Dari segi efek samping yang ditimbulkan, Penny menuturkan, vaksin Sinovac sejauh ini masih bersifat ringan hingga sedang dan dapat diatasi. “Pada umumnya efek samping vaksin Sinovac tidak berbahaya. Efek samping lokal bisa berupa nyeri, iritasi, serta pembengkakan. Efek samping yang bersifat sistemik bisa berupa nyeri otot, rasa lelah, serta demam. Untuk derajat beratnya, yaitu sakit kepala, gangguan kulit, serta diare, dengan persentase tercatat sekitar 0,1-1 persen. Secara keseluruhan, efek samping vaksin Sinovac tidak berbahaya dan dapat pulih kembali.” kata Penny.

Share this post


Best Seller Products

has been added to your cart.
Checkout