7 Penyebab Stres dan Cara Mengobatinya

penyebab stress

7 Penyebab Stres dan Cara Mengobatinya

Stres merupakan perubahan reaksi tubuh ketika menghadapi ancaman, tekanan, atau situasi yang baru. Ketika mengalami stres, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Apa penyebab stres dan gejalanya?

Ketika seseorang mengalami stres, detak jantung dan tekanan darah akan meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, serta otot menjadi tegang. Apa penyebab stres dan gejalanya, serta bisakah stres diobati? Simak penjelasan berikut.

Penyebab Stres

Stres yang dialami setiap orang bisa berbeda-beda. Seseorang menganggap ujian sekolah bisa menyebabkan stres, namun orang lain mungkin lancar menghadapinya. Meski penyebab stres belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami stres, yaitu:

  • Lingkungan yang tidak aman, seperti area konflik. 
  • Keluarga yang tidak harmonis.
  • Kesenjangan ekonomi.
  • Peristiwa yang membuat trauma.
  • Penyakit berjangka lama (kronis).
  • Kejadian buruk, seperti PHK atau perceraian.
  • Beban pekerjaan.

Gejala Stres

Stres terbagi menjadi stres akut dan stres kronis. Stres akut terjadi dalam jangka waktu pendek dan mudah ditangani, sedangkan stres kronis terjadi dalam waktu yang lama, yang jika tidak ditangani bisa menimbulkan masalah kesehatan.

Stres umumnya ditandai dengan adanya perubahan fisik dan mental. Gejala pada setiap orang juga berbeda-beda, tergantung cara menghadapinya. Gejala stres dapat dibedakan menjadi:

1. Gejala emosi

  • Frustrasi.
  • Mudah gusar.
  • Bingung.
  • Sulit untuk menenangkan pikiran.
  • Suasana hati yang mudah berubah.
  • Depresi.
  • Cenderung menghindari orang lain.
  • Perasaan tidak berguna.

2. Gejala fisik

  • Mual.
  • Lemas.
  • Pusing.
  • Diare.
  • Nyeri otot.
  • Sembelit.
  • Gangguan tidur.
  • Jantung berdebar.
  • Tubuh gemetar.
  • Telinga berdenging.
  • Hasrat seksual menurun.
  • Mulut kering.
  • Sulit menelan.
  • Kaki atau tangan terasa dingin dan berkeringat.

3. Gejala kognitif

  • Sering lupa.
  • Sulit fokus.
  • Cenderung berpandangan negatif.
  • Sering membuat keputusan yang tidak baik.
  • Pesimis.

4. Gejala perilaku

  • Kebiasaan menghindari tanggung jawab.
  • Perubahan pola makan.
  • Jalan mondar-mandir.
  • Sikap gugup, seperti menggigit kuku.
  • Kebiasaan merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.

Kapan Harus ke Dokter?

Stres dalam waktu yang lama, bisa membahayakan kesehatan mental dan fisik. Jika Anda mengalaminya, segera ke dokter. Anda juga dianjurkan ke dokter jika mengalami stres dan menunjukkan perilaku, seperti:

  • Tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Tidak bisa mengendalikan rasa takut dan panik.
  • Sering merasakan pusing atau detak jantung meningkat.
  • Sering mengalami gangguan tidur.
  • Selalu teringat pada peristiwa yang membuat trauma.
  • Muncul pikiran untuk bunuh diri.

Cara Mengobati Stres

Untuk mengurangi gejala stres, Anda bisa melakukan manajemen stres. Namun, manajemen stres bukan bertujuan untuk menghilangkan stres sepenuhnya, namun mengelolanya agar aktivitas sehari-hari tidak terganggu. Berikut langkah-langkahnya:

  • Identifikasi penyebab stres

Cara ini dilakukan dengan mencari tahu apa yang memicu stres, seperti masalah pekerjaan, situasi rumah, atau hubungan dengan orang lain.

  • Cari pemecahan masalahnya

Jika penyebab sudah diketahui, langkah selanjutnya adalah menyusun rencana untuk mengatasi masalah tersebut, dimulai dari rencana yang mudah diselesaikan.

  • Konsultasi dengan dokter

Jika Anda tidak dapat mengidentifikasi dan menemukan solusinya, segera berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat merekomendasikan konseling, terapi perilaku kognitif, atau terapi emotional freedom technique (EFT). Dokter juga bisa meresepkan obat jika stres menunjukkan gejala medis.

Share this post


Best Seller Products

has been added to your cart.
Checkout