6 Manfaat Liburan untuk Kesehatan Mental

emotional wellbeing saat liburan

6 Manfaat Liburan untuk Kesehatan Mental

Ketika rutinitas mulai terasa menekan, menjaga emotional wellbeing saat liburan menjadi salah satu cara terbaik untuk memulihkan energi. 

Liburan bukan hanya soal bersantai atau jalan-jalan, tetapi juga momen penting untuk mengistirahatkan pikiran, menurunkan stres, dan mengembalikan keseimbangan emosi. 

Dengan memahami manfaat liburan bagi kesehatan mental, Anda bisa menjadikannya waktu yang benar-benar memulihkan, bukan sekadar jeda singkat dari kesibukan.

Manfaat Liburan untuk Kesehatan Mental

Untuk mendukung emotional wellbeing saat liburan, ada beberapa manfaat besar yang bisa Anda rasakan ketika memberi diri sendiri waktu untuk beristirahat. Berikut penjelasannya:

1. Memperbaiki Mood

Penelitian dari University of Pittsburgh’s Mind-Body Center menunjukkan bahwa liburan dapat meningkatkan emosi positif dan menurunkan gejala depresi. 

Sebuah studi menemukan bahwa tiga hari setelah liburan, kualitas tidur, suasana hati, dan keluhan fisik seseorang meningkat dibandingkan sebelum berlibur. 

Manfaat ini bisa bertahan hingga lima minggu, terutama jika liburannya benar-benar memuaskan dan memberi cukup waktu personal.

Luangkan lebih banyak waktu untuk aktivitas yang Anda suka selama liburan, dan Anda akan merasakan energi positif yang bertahan lama. Manfaat ini tentu sangat mendukung emotional wellbeing saat liburan.

2. Mempertajam Fokus

Stres yang berlangsung lama dapat mengganggu kemampuan Anda dalam berkonsentrasi dan memengaruhi daya ingat.

 Ketika Anda menjauh sejenak dari pekerjaan atau tekanan harian, otak mendapatkan ruang untuk pulih sehingga fungsi kognitif kembali lebih optimal.

Berlibur membantu Anda mengistirahatkan otak sehingga saat kembali, Anda jadi lebih produktif, fokus, dan siap menjalankan aktivitas seperti biasa.

3. Mengurangi Burnout dan Stres

Berlibur membantu melepaskan stres dan burnout Anda alami. Tekanan kerja yang menumpuk tidak hanya mengganggu pikiran dan tubuh, tetapi juga berisiko menurunkan kesehatan fisik. 

Dengan menyisihkan waktu untuk melihat tempat baru atau sekadar beristirahat, Anda memberi kesempatan pada diri sendiri untuk kembali tenang. 

Ini membuat pikiran lebih jernih dan tubuh lebih ringan, yang sangat penting untuk emotional wellbeing saat liburan.

4. Meningkatkan Kebahagiaan

Bukan hanya momen liburan yang membuat Anda bahagia, bahkan proses merencanakan liburan pun sudah bisa meningkatkan perasaan positif. 

Banyak orang merasakan peningkatan mood hingga delapan minggu sebelum tanggal keberangkatan, dan efeknya bisa bertahan beberapa minggu setelah pulang.

Untuk memaksimalkan rasa bahagia ini, Anda bisa menikmati setiap prosesnya, mulai dari memilih destinasi, menyiapkan barang bawaan, hingga membayangkan pengalaman seru yang akan terjadi. 

Semua ini memperkuat emotional wellbeing saat liburan dan membuat Anda lebih siap untuk menghadapi kesibukan setelahnya.

5. Mempererat Hubungan

Liburan juga menjadi momen penting untuk memperkuat hubungan dengan pasangan, teman, atau keluarga. 

Sebuah studi menunjukkan bahwa pasangan yang melakukan kegiatan menarik dan menantang selama liburan cenderung merasakan kedekatan dan kepuasan hubungan yang lebih tinggi, bahkan setelah kembali ke rutinitas.

Begitu pula dengan hubungan antar saudara. Saat liburan, Anda memiliki kesempatan untuk terhubung dengan cara yang mungkin tidak sempat dilakukan di hari-hari biasa.

6. Meningkatkan Kreativitas

Menjelajahi tempat baru bisa meningkatkan kreativitas Anda. Orang yang lebih sering berlibur atau berinteraksi dengan budaya lain cenderung menghasilkan ide yang lebih beragam dan memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik.

Ketika kita stres, tubuh memproduksi hormon kortisol yang dapat mengganggu fungsi otak, termasuk kemampuan memproses informasi.

Ini dapat membuat Anda lebih mudah kewalahan. Liburan memberi kesempatan untuk memutus siklus stres tersebut.

Tanda Anda Butuh Liburan

Kadang tubuh dan pikiran sudah memberi sinyal halus bahwa Anda butuh istirahat, tapi kita sering mengabaikannya. 

Jika beberapa tanda berikut mulai muncul, mungkin sudah saatnya Anda mengambil jeda sejenak.

1. Cemas di Hari Minggu

Jika setiap Minggu malam Anda merasa cemas, sedih, atau berat membayangkan hari Senin, itu lebih dari sekadar “malas kerja”. 

Perasaan ini menandakan otak Anda sudah lelah menghadapi rutinitas dan butuh waktu untuk reset sebelum kembali produktif.

2. Mudah Lelah

Pekerjaan yang repetitif atau membosankan lama-lama bisa menguras energi mental. Anda mungkin merasa menjalani hari dengan autopilot, kreativitas menurun, dan tubuh terasa capek terus meski fisiknya tidak bekerja berat.

3. Terlalu Banyak Tekanan

To-do list menumpuk, semua orang meminta bantuan, dan hal kecil terasa seperti masalah besar. 

Ketika semuanya terlihat menumpuk, itu tanda stres Anda sudah tidak sehat dan otak kewalahan memproses beban.

4. Sulit Mengambil Keputusan

Jika Anda sering bingung, butuh waktu lama berpikir, atau langsung bengong saat dihadapkan pada pilihan sederhana, kemungkinan Anda sedang kelelahan. 

Ini adalah ciri khas burnout ketika otak kehilangan kapasitas untuk memproses keputusan.

5. Jadi Pesimis

Saat mental kewalahan, kemampuan melihat sisi positif jadi menurun. Anda cenderung fokus pada yang buruk, merasa tidak cukup baik, atau kehilangan harapan. 

Sikap pesimis ini bisa memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, hingga kesehatan fisik.

6. Emosi Tidak Stabil

Mood yang mudah berubah, gampang tersinggung, atau merasa sensitif berlebihan adalah tanda otak sedang butuh istirahat. 

Saat lelah, kontrol emosi ikut melemah sehingga reaksi Anda jadi lebih meledak atau tidak proporsional.

7. Susah Konsentrasi

Fokus terasa buyar terus, pekerjaan kecil jadi memakan waktu lama, dan Anda sulit menentukan prioritas.

Ini biasanya terjadi saat beban mental meningkat sehingga otak kesulitan bekerja optimal.

8. Kehilangan Motivasi

Aktivitas yang biasanya menyenangkan terasa hambar. Anda mulai mempertanyakan makna pekerjaan atau rutinitas yang dulu tidak masalah. Rasa monoton ini bisa membuat semuanya tidak menggairahkan

9. Menghindari Tugas Penting

Sering menunda tugas utama tapi malah menyibukkan diri dengan hal kecil, misalnya membersihkan meja, scroll media sosial, atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tidak penting, adalah tanda burnout yang sering tidak disadari. Ini cara otak menghindari tekanan.

10. Performa Menurun

Tanpa istirahat yang cukup, kreativitas, produktivitas, dan kualitas hasil kerja pasti menurun. 

Pada tahap ini, rutinitas yang terlalu kaku dan tanpa jeda semakin memperburuk performa.

Cara Menjaga Emotional Wellbeing Saat Liburan

Setelah memahami manfaat liburan untuk kesehatan mental, Anda juga perlu tahu cara agar emotional wellbeing tetap terjaga selama liburan. 

1. Batasi Media Sosial dan Jangan Bekerja Selama Liburan

Untuk benar-benar pulih, cobalah lepas dari urusan pekerjaan. Hindari laptop dan jauhkan ponsel saat Anda ingin bersantai.

Jangan lupa beri tahu atasan dan rekan kerja bahwa Anda sedang liburan supaya Anda bisa sepenuhnya bebas dari pekerjaan.

2. Tetap Aktif Secara Fisik

Aktivitas fisik justru paling kuat meningkatkan rasa bahagia saat liburan. Anda bisa merencanakan kegiatan menyenangkan seperti hiking, berenang, berjalan-jalan, atau bersepeda, sesuaikan dengan destinasi liburan Anda.

3. Liburan dengan Orang yang Tepat (atau Sendirian)

Berlibur dengan orang-orang yang dekat dengan Anda dapat meningkatkan suasana hati. Namun, liburan sendirian juga tidak masalah, kok!

Jika Anda merasa lebih pulih saat menikmati waktu sendiri, solo trip bisa jadi pilihan terbaik. 

Menjaga emotional wellbeing saat liburan bukan hanya tentang menikmati waktu senggang, tapi juga memahami bagaimana liburan memberi dampak nyata bagi kesehatan mental Anda. Pastikan Anda merencanakan liburan yang sesuai kebutuhan, ya!Selalu jaga kesehatan Anda dan keluarga dengan beli suplemen dan obat terpercaya dari Pyfa Health!

Share this post


Best Seller Products

has been added to your cart.
Checkout