HIV: Gejala, Cara Mengobati, dan Pencegahannya

ditinjau oleh dr. Carlinda Nekawaty

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh yang dapat melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi dan penyakit dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4. Semakin banyak sel CD4 yang hancur, daya tahan tubuh akan semakin menurun.

HIV akan berkembang menjadi penyakit serius yang disebut AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) jika tidak ditangani segera. Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi gejala HIV sejak dini. Apa saja gejala HIV, cara mengobati dan pencegahannya? Berikut penjelasannya.

Apa itu HIV dan AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan bisa melemahkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah kondisi di mana HIV sudah pada tahap infeksi akhir.

Ketika seseorang sudah mengalami AIDS, tubuh tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan infeksi yang ditimbulkan. Namun, seseorang yang mengidap HIV masih bisa menjalani pengobatan tertentu untuk memperlambat perkembangan penyakit ini. Oleh karena itu, penting untuk mendeteksi HIV sejak dini.

Penyebab HIV dan AIDS

Di Indonesia, sebagian besar penyebaran dan penularan HIV disebabkan oleh hubungan intim yang tidak aman dan bergantian menggunakan jarum suntik yang tidak steril saat memakai narkoba. Gejala atau tanda awal HIV biasanya akan muncul setelah 1-2 bulan seseorang terinfeksi.

Meski semua orang berisiko terinfeksi HIV, namun ada beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi terkena HIV, yaitu:

  • Orang yang melakukan hubungan intim tanpa kondom, baik hubungan sesama jenis maupun heteroseksual.
  • Pengguna narkotika suntik.
  • Orang yang terkena infeksi penyakit seksual lain.
  • Orang yang sering membuat tato atau melakukan tindik.
  • Orang yang berhubungan intim dengan pengguna narkotika suntik.

Gejala HIV dan AIDS pada Pria

HIV dan AIDS bisa dialami oleh pria dan wanita. Namun, gejala HIV yang dialami pria dan wanita bisa berbeda. Berikut beberapa gejala khas pada pria yang terinfeksi HIV:

1. Menurunnya keinginan seks

Pria yang terinfeksi HIV akan mengalami penurunan keinginan seks. Hal ini disebabkan oleh testis yang tidak menghasilkan hormon testosteron yang cukup.

2. Luka pada bagian penis

Luka pada penis bisa menjadi gejala adanya penyakit HIV pada pria. Selain itu, luka juga rentan muncul pada anus. Sebaiknya, jangan abaikan masalah ini dan segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

3. Nyeri saat buang air kecil

Gejala HIV pada pria lainnya adalah nyeri saat buang air kecil. Jangan abaikan gejala ini dan periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Gejala HIV dan AIDS pada Wanita

Ada beberapa gejala khas HIV pada wanita yang perlu diwaspadai berikut:

1. Muncul gejala seperti flu

Salah satu gejala awal yang dialami oleh beberapa wanita adalah munculnya gejala seperti flu. Ada beberapa gejala yang tidak boleh diabaikan, antara lain demam, kelelahan, sakit kepala, pembengkakan kelenjar getah bening, dan muncul ruam pada kulit. Kondisi ini biasanya bisa pulih dengan sementara. Setelah itu, gejala lanjutan akan kembali muncul dalam waktu yang bervariasi.

2. Mengalami infeksi vagina berulang

Gejala khas HIV pada wanita lainnya adalah membuat tubuh menjadi kesulitan untuk mengontrol atau mengatasi bakteri dan jamur yang dapat menyebabkan infeksi. Kondisi ini memicu wanita lebih rentan mengalami infeksi pada vagina baik infeksi bakteri maupun infeksi jamur. Infeksi jamur pada vagina biasanya akan dialami berulang pada pengidap HIV wanita. Ada beberapa gejala yang muncul dan perlu diwaspadai terkait kondisi ini, antara lain sensasi pada bagian vagina dan vulva, keputihan, serta nyeri saat berhubungan intim.

3. Perubahan siklus menstruasi

Wanita yang mengidap HIV umumnya akan lebih rentan mengalami gangguan pada siklus menstruasi, seperti amenorea dan oligomenore dibandingkan wanita yang tidak mengidap HIV. Kondisi ini akan lebih mudah dialami oleh wanita ketika jumlah sel CD4 dalam tubuh semakin menurun.

4. Nyeri panggul kronis

Penularan HIV hampir serupa dengan penyakit menular seksual, sehingga wanita yang terinfeksi HIV juga lebih berisiko terpapar bakteri, seperti gonore dan klamidia. Hal ini menyebabkan wanita yang mengidap HIV akan mengalami radang panggul yang kronis dan menyebabkan nyeri panggul.

5. Gangguan kesuburan

Nyeri panggul kronis yang disebabkan karena adanya radang panggul juga dapat memicu berbagai kondisi lain pada wanita. Salah satunya adalah gangguan kesuburan. Hal ini dikarenakan virus HIV dapat menekan kekebalan tubuh, sehingga pengobatan yang dilakukan untuk nyeri panggul kronis atau radang panggul tidak bisa optimal. Dengan demikian, wanita yang mengidap HIV akan rentan mengalami gangguan kesuburan.

6. Menopause dini

HIV juga dapat menyebabkan terjadinya menopause dini. Menopause dini merupakan menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun. Wanita yang mengidap HIV akan rentan mengalami menopause dini ketika penyakit ini disertai dengan gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta jumlah sel CD4 yang rendah.

Cara Mengobati HIV dan AIDS

Hingga saat ini, belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, namun ada obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat tersebut adalah antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan cara menghilangkan unsur yang dibutuhkan oleh virus HIV untuk menggandakan diri dan mencegah HIV menghancurkan sel CD4. Ada beberapa jenis obat ARV, yaitu:

  • Efavirenz.
  • Etravirine.
  • Nevirapine.
  • Lamivudin.
  • Zidovudin.

Selama mengonsumsi obat ARV, dokter akan memonitor viral load-dan sel CD4 untuk menilai respons pasien terhadap pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3-6 bulan, sedangkan pemeriksaan viral load dilakukan sejak awal pengobatan dan dilanjutkan tiap 3-4 bulan selama masa pengobatan.

Pasien harus segera mengonsumsi ARV saat didiagnosis mengidap HIV agar perkembangan HIV dapat dikendalikan. Penting untuk diingat, menunda pengobatan dapat membuat virus terus merusak sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko infeksi berkembang menjadi AIDS.

Selain mengobati, Anda juga perlu melakukan beberapa cara mencegah dan mengurangi penularan HIV berikut:

  • Tidak berganti-ganti pasangan seksual.
  • Menghindari penggunaan narkoba, terutama jenis suntik.
  • Menggunakan kondom saat berhubungan seksual.
  • Tes HIV secara rutin, terutama di usia 13-64 tahun (terutama yang aktif secara seksual, pekerja medis, atau orang yang rentan terkena).
  • Ibu hamil yang mengidap HIV harus berbicara dengan dokter mengenai risiko terhadap janin mereka. Diskusikan mengenai metode untuk mencegah bayi terinfeksi, seperti minum obat antiretroviral selama kehamilan.

Selain itu, untuk membantu menjaga daya tahan tubuh, Anda dapat mengonsumsi multivitamin yang mengandung vitamin C 1000, salah satunya adalah Pyfahealth Vitamin-C1000.

Beli Vitamin di sini

has been added to your cart.
Checkout